Satu hal paling urgen yang seringkali dilalaikan oleh banyak manusia adalah tentang hakikat dirinya sebagai seorang hamba Allah Swt.. Manusia acap kali mengabaikan atau bahkan sengaja melupakannya. Dan dari akar masalah inilah timbul berbagai tindakan dosa, maksiat, kejahatan, dan kerusakan dalam kehidupan. Manusia seperti ini hidup dalam kebebasan berbuat dan bereskpresi serta melakukan apapun yang dikehendaki hatinya. Hidup tanpa ada aturan yang jelas. Orang-orang yang seperti demikian telah hilang fungsi akal dan hatinya. Akalnya tidak lagi bisa membedakan antara yang baik dan buruk. Dan hatinya tidak lagi bisa membedakan antara yang benar dan salah.
Allah Swt. telah mengatur kehidupan manusia dalam al-Qur`an dan sunnah Rasulullah Saw.. Manusia yang menyadari dirinya sebagai seorang hamba akan selalu mengikuti petunjuk yang diturunkan Allah Swt. dan diajarkan Rasul Saw.. Hidupnya akan penuh dengan kebaikan dan nilai-nilai manfaat. Manusia seperti demikian adalah orang-orang yang Allah gambarkan sebagai ûlul albâb, orang-orang yang berakal. Sehingga nampak jelaslah adanya perbedaan yang mencolok antara orang-orang yang menjalankan fungsi akal dan hatinya. Dan adanya perbedaan antara orang-orang yang hatinya hidup dengan orang-orang yang hatinya sakit atau telah mati.
Kita sebagai pelajar dan mahasiswa Islam tentu harus lebih cerdas dalam hal ini. Kita telah belajar Al-Qur`an, Hadits, Aqidah, Fiqh dan beraneka ragam ilmu agama lainnya. Dari berbagai pembelajaran tersebut banyak hal yang telah kita pahami dan ketahui. Kita sudah mengenal Allah Swt., sunnah Rasul Saw., aturan-aturan syar`i, dan batas-batas dalam berbuat serta berekspresi. Ada koridor yang harus dijaga dan tidak boleh dilanggar. Kita bukan seperti orang-orang kafir yang boleh berbuat seenak hati, bukan seperti orang-orang awam yang masih dangkal dan jauh pemahaman agamanya. Tapi kita adalah muslim dan penuntut ilmu syar`i.
Sebagai seorang pelajar kita tidak hanya dituntut pintar, menguasai berbagai macam pengetahuan, tapi kita juga dituntut untuk soleh secara pribadi, akhlak, sikap, dan dalam hubungan dengan orang lain. Kesalehan yang mencakup seluruh aspek. Ini yang tidak dipahami dan disadari oleh sebagian pelajar islam. Sehingga kita banyak melihat pelajar islam sering kali melakukan tindakan-tindakan yang tidak layak bagi seseorang yang bergelar pelajar islam.
Contoh yang sering kita lihat adalah pacaran. Pacaran sudah menjadi budaya yang sulit rasanya untuk dihilangkan. Jalan bareng, nelpon tanpa batas waktu dan kata, chating yang berkepanjangan dan sebagainya telah begitu mengakar dalam diri sebagian pelajar islam. Interaksi yang terlalu dekat dengan lawan jenis ketika dalam kegiatan-kegiatan, acara rihlah, bahkan dalam forum-forum keilmuwan dan dakwah juga sering terjadi. Kerusakan moral telah meluas dan semakin parah.
Sebagian muda-mudi ada yang sentimen atau berpandangan negatif pada mahasiswa dan mahasiswi yang menikah ketika masih kuliah. Akan tetapi, apakah mereka tidak risih melihat mahasiswa/i yang pacaran, yang belakangan ini sudah menjadi pemandangan biasa. Seperti , jalan berduaan, makan di restoran berduaan, sehingga kita sangat sulit membedakan mana yang telah menikah dan mana yang belum, karena prilaku mereka seperti orang yang sudah menikah.
Dari segi pakaian, masih banyak kita temukan kaum muslimah yang pakaiannya ketat, transparan atau mengundang perhatian, sedangkan ia belajar di institut pendidikan Islam. Atau mahasiswa yang penampilannya tidak mengesankan dirinya seorang pelajar islam.
Hal lainnya adalah, tidak terjaganya mata, mata yang sering jelalatan dan melihat sesuatu yang akan mengotori hati, pikiran, dan membangkitkan hasrat nafsu birahi. Atau menghabiskan waktu dan hari-hari dengan hiburan-hiburan cengeng, yang membuat seseorang lemah mental dan iman. Hiburan yang tidak membangun jiwa, tidak menambah ilmu dan manfaat, hiburan yang tidak mendekatkan seseorang pada kebaikan dan pada Allah Swt.. Dan banyak hal lainnya yang kalau kita sorot lebih jauh dan mendalam, yang terjadi di lingkungan dan dalam kehidupan seorang manusia muslim dan mahasiswa/i islam.
Setiap orang memang boleh berekspresi, tapi harus diingat ada batasan yang mesti ia perhatikan dan jaga. Bukannya bisa berbuat seenak hati. Kita harus menyadari bahwa diri kita adalah seorang hamba Allah Swt.. Setiap saat Allah Swt. senantiasa melihat, mendengar dan mengetahui kata-kata, perbuatan dan isi hati kita. Kalau hal ini betul-betul kita pahami dengan baik, tentu berbagai kerusakan akhlak, moral, amal, ilmu dan seterusnya tidak akan terjadi dalam kehidupan kita.
Ketika band dijadikan sebagai hiburan oleh para penuntut ilmu agama, timbul pertanyaan, kenapa harus musik band? Apa tidak ada lagi hiburan lain yang lebih manfaat dan lebih pantas diadakan oleh kita selaku penuntut ilmu agama? Kenapa kita seolah-olah meninggalkan al-Qur`an sebagai penghibur hati? Walaupun ada beberapa alasan mereka yang membenarkan musik band, diantaranya adalah ungkapan, "Kan yang penting lirik lagunya islami," akan tetapi dari alasan ini muncul sebuah pertanyaan, apakah mereka yang mendengarkannya merenungi atau menikmati kata-kata yang ada dalam lagu tersebut, atau mereka terhibur adalah semata-mata karena alat musik yang dimainkan? Menurut penulis, masih banyak alternatif lain yang lebih pantas bagi kita sebagai penuntut ilmu syar`i.
Tulisan ini tidaklah bermaksud untuk menyudutkan beberapa pihak, tapi penulis ingin menghimbau pada kita semua untuk sama-sama mengenali hakekat diri kita sebagai seorang manusia, seorang hamba Allah Swt. dan seorang pelajar islam. Sehingga dengan adanya kesadaran yang penuh dalam diri kita akan hal ini, bisa menghantarkan kita semua untuk menjadi pribadi muslim yang soleh dan solehah sebagaimana yang diinginkan Allah Swt.. Kita hidup di dunia hanya sebentar, dan waktu sebentar itu tidaklah tepat kiranya kita gunakan untuk hal-hal yang tidak berguna apalagi untuk hal-hal yang akan mencelakakan kita di akhirat kelak.
Memang setiap kita punya persepsi masing-masing dan setiap individu berhak menentukan sikap dan pilihan terhadap dirinya. Namun alangkah bijaknya kita yang lemah dan tidak tahu ini berkaca pada petunjuk Allah Swt. dan Rasul Saw. dengan pikiran yang jernih dan hati yang bersih. Sehingga nampak jelaslah bagi kita kebenaran dan kemungkaran itu, jelaslah bagi kita jalan mana yang harus kita tempuh dan jalan mana yang harus kita tinggalkan.
Terakhir, semoga pembaca bijak dalam memahami tulisan ini , mengambil sisi positif dan manfaatnya. Dan bila terdapat kesalahan dalam penempatan atau penggunaan kata, terlebih dahulu penulis menyampaikan permintaan ma`af dan mengharapkan perbaikan dari pembaca sehingga diantara kita terbina saling mengingatkan pada kebaikan.
Jumat, 09 Oktober 2009
Sabtu, 05 September 2009
Puasa dan Ketaatan Kepada Allah
Bulan Ramadhan adalah bulan yang sangat istimewa bagi kaum Muslim. Ghirah keislaman kaum Muslim biasanya meningkat tajam. Inilah momentum untuk melakukan 'taqarrub istimewa' yang bisa menjadikan umat ini menggeliat bangun untuk melanjutkan kembali kehidupan islamnya.
Seorang pegawai negeri sipil disebuah instansi pemerintah tiba-tiba menjadi alim saat Ramadhan. Demikian juga kalau kita lihat muda-mudi yang biasanya bergandengan tangan kesana-kemari seolah hilang meski tak semuanya. Mereka seolah baru menyadari kalau perbuatannya berdosa sehingga tidak boleh dilakukan pada bulan Ramadhan.
Masjid-masjid, mushola-Mushola menjadi ramai pada malam hari. Antusiasme kaum Muslimin begitu luar biasa saat bulan Ramadhan, mereka berbondong-bondong mendatangi masjid-majid, mushola-musholla dengan pakaian khas mereka. yang pria pakai baju koko dan yang wanita berkerudung. Artis-artispun sepertinya tak mau ketinggalan mereka merubah penampilan mereka total dari perilaku biasanya. Mereka yang sebelumnya berjingkrak-jingkrak dan suka ngakak mendadak menjadi alim. Kemanapun mereka disorot kamera, seolah pingin menonjolkan kealimannya dihadapan umum. Anak-anak yatim mereka undang untuk berbuka puasa di rumah mereka. Kadangkala merekapun menyempatkan diri mendatangi panti asuhan untuk menyampaikan sumbangan. "Di bulan Ramadhan saya sering menyumbang, bersedekah bahkan tampil sebagai pengisi acara Ramadhan. Di luar Ramadhan saya kembali bergabung bersama teman-teman yang lain" kata artis.
Para pejabat tinggi negarapun demikian mereka jadi gemar menyambangi masjid dan tempat ibadah. Mereka mereka menyediakan makan bagi karyawannya untuk berbuka bagi mereka yang harus melewati maghrib di kantor, sekaligus berbuka bersama. Ini adalah hal yang jarang terjadi ketika bulan-bulan biasa.
Mal-mal dan pusat perbelanjaan tak ketinggalan. Mereka memutar lagu-lagu bernuansa Islam. Pajangan-pajangan seronokpun disingkirkan diganti dengan pajangan khas Ramadhan dan menyambut lebaran.
Suasanan Ramadan kian semarak ketika setasiun-stasiun televisi menayangkan tayangan-tayangan yang bernuan Islam. Ramadhan menjadi salah satu acara yang dikemas sedemikian rupa oleh stasiun televisi untuk mendatangkan iklan, semata-mata untuk mendatangkan keuntungan di tengah suasana ibadah.
Walhasil, nuansa Ramadhan demikian terasa mewarnai negeri yang mayoritas Muslim terbesar di dunia. Ramadhan menjadi kesempatan setahun sekali yang begitu penting. seolah tak ada yang mau ketinggalan dengan suasana Ramadhan ini.
Bulan Ramadhan mampu mengubah persepsi dan perilaku seorang Muslim sedemikian rupa Orang fasik menjadi malu menampakkan kefasikannya. Orang munafik menjadi enggan mempertontonkan kemunafikannya. Orang zalimpun mengurangi intensitas kezalimannya. sebaliknya orang salih makin bersemangat dan meningkatkan amal baiknya lebih daripada bulan-bulan lainnya.
Ramadhan mampu menciptakan atmosfer keimanan yang kuat, suasana kebaikan, dan perasaan yang peka terhadap ajaran-ajaran Islam. Pada bulan itu kaum Muslim mampu bersatu, serentak menunaikan perintah Allah yang berkaitan dengan ibadah shaum; shaum pada hari yang sama dan berbuka (i'd) pada hari yang sama; mampu menahan tidak makan, tidak minum, menahan hawa nafsu; sanggup menjalankan ibadah-ibadah nafilah dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah; bersedia berkorban lebih besar dan lebih banyak dalam bidang harta benda; dan banyak lagi.
Kehilangan Makna
Di tengah antusiame kaum Muslim menjalankan ibadah puasa ada anomali yang muncul. Ramadhan menjadi alasan untuk tidak bekerja maksimal. Banyak orang menjadi malas dan loyo dalam bekerja. Produktivitas menurun.
Ini membuktikan, disadari atau tidak, apa yang terjadi selama bulan Ramadhan ini belum menjadi sebuah sepirit luar biasa bagi kaum Muslim dalam melakukan perubahan ke arah kehidupan yang lebih baik pada masa-masa berikutnya. Ramadhan hanya 'disyiarkan' pada waktu bulan tersebut saja. Setelah bulan itu berlalu, kehidupan kembali seperti semula, seolah tidak ada bekas sedikitpun dari Ramadhan kali ini.
Ini bisa terjadi karena ada pemahaman yang keliru di tengah masyarakat. Ramadhan dijadikan bulan suci yang harus dihormati, bukan bulan yang harus dijadikan tempat untuk berbenah diri menghadapi masa berikutnya, jadi fokusnya adalah bagaimana menghormati bulan itu dengan aktivitas yang baik ala kadarnya. Akibatnya, tidak ada pengaruh yang signifikan antara puasa dan perubahan perilaku.
Pemahaman ini muncul bisa jadi karena banyak kaum Muslim tidak memahami hakikat puasa Ramadhan ini. Kalaupun mereka tahu tentang puasa, sifatya dangkal. Tidak aneh bila puasa pada bulan berkah ini muncul sebagai rutinitas tahunan. Bisa jadi banyak orang beramal karena pengaruh lingkungan sekitarnya, bukan karena kepahamannya terhadap perintah Allah tersebut. Ibaratnya, puasa Ramadhan adalah tren. Akhirnya puasa itu sekedar ibadah ritual sehingga kehilangan ruhnya. Tak mengherankan bila puasa hanya berpengaruh terhadap individual semata dan itu hanya terjadi pada saat puasa.
Kenyataan ini tidak lepas dari sekulerisasi yang melanda umat Islam. ibadah, termasuk puasa, dipandang hanya sebagai ritual semata yang tidak terkait dengan perilaku hidup lainnya yang lebih luas.
Dilihat dari upaya mendekatkan diri kepada Allah (taqarrub ila Allah), semangat itu ada di kalangan kaum Muslim. Namun, dengan proses sekulerisasi, pendekatan diri kepada Allah ini sifatnya menjadi sangat terbatas pada individu dan tidak berpengaruh terhadap lingkungan di luar dirinya; seolah pendekatan diri itu cukup hanya dengan ibadah mahdlah saja. inilah buah dari ketiadaan pemahaman yang komprehensif tentang makna taqarrub illa Allah
Puasa dan Ketaatan
Secara fiqh, puasa adalah menahan diri dari makan dan minum serta hal-hal yang membatalkannya dari terbit fajar hingga terbenamnya matahari. Inilah yang menjadi pemahaman umum di tengahmasyarakat. Walhasil. dampaknya sangat material dan inderawi belaka.
Padahal kalau kita meyimak hadits Rasulullah saw., ada makna yang lebih dalam dari sekedar menahan makan dan minum belaka. Nabi saw. bersabda, "Barang orang yang berpuasa ada dua kebahagiaan: kebahagiaan ketika ia berbuka dan kebahagiaan ketika ia berjumpa dengan Tuhannya." (HR al-Bukhari dan Muslim).
Ada juga hadits lain dari Abu Hurairah ra., bahwa Rasulullah saw. pernah bersabda, "Puasa itu bukanlah semata-mata menahan diri makan dan minum, tetapi juga menahan diri dari perbuatan yang sia-sia dan keji. Jika ada orang yang mencelamu atau berbuat jahil kepadamu maka katakanlah, 'Aku sedang puasa, aku sedang puasa." (HR Ibnu Khuzaimah dan Al-Hakim dengan sanad sahih)
Hadit-hadits diatas menunjukkan bahwa puasa tidak hanya menahan diri dari makan, minum dan jimak tetapi juga meninggalkan berbagai kemaksiatan, baik itu mata, tangan, kaki ataupun hatinya. Pendek kata kita melakukan aktivitas pengendalian diri sesuai dengan aturan Allah SWT.
Oleh karena itu, orang yang sukses dalam puasanya akan menyadari keberadaan dirinya di dunia bahwa ia hanyalah makluk dan harus tunduk dengan aturan-aturan Allah. Dengan kesadaran tersebut, kita harus rela menanggalkan hawa nafsunya dan kembali pada jatidirinya sebagai hamba yang diberi amanah oleh penciptanya. Amanah itu adalah senantiasa mengatur kehidupan ini dengan ketentuan Allah. bukan hawa nafsunya yang dikedepankan.
Rasulullah saw bersabda. "Banyak orang yang berpuasa di mana bagian dari puasanya hanyalah rasa lapar dan dahaga." (HR Ibnu Majah dengan sanad yang shahih).
Buah dari Puasa
Puasa Ramadhan sebulan lamanya semestinya membawa perubahan yang luar biasa kepada semua orang yang melaksanakannya. Betapa tidak. Mereka telah berlatih untuk menahan nafsunya sehingga tidak berani sedikitpun melanggar ketentuan Allah. Kalau mereka telah berhasil menahan diri dari dari hal-hal yang sebenarnya di luar Ramadhan halal, seharusnya mereka lebih bisa lagi untuk menahan diri dari hal-hal yang dilarang oleh-Nya.
Idealnya pasca Ramadhan lahir sebuah tatanan baru yang dipenuhi dengan suasana keimanan dan ketaatan kepada Allah SWT; bukan sebaliknya, hadir kembali suasana kerusakan seolah Ramadhan tidak pernah ada.
Oleh karena itu, saatnya puasa Ramadhan kali ini menjadi momentum bagi seluruh Muslim untuk meningkatkan kedekatannya kepada Allah SWT dalam arti sebenarnya. Puasa adalah taat syariah. Hasilnya akan terlihat ketika Ramadhan telah berlalu. Akankan kita semakin taat? kalau kian taat berarti puasa Ramadhan kita sukses. Sebaliknya, kalau tidak ada dampaknya berarti kita rugi menjalankan puasa. kalau setelah Ramadhan bertambah buruk berarti itu celaka.
Seorang Muslim yang baik tidak 'bermetamorfosis' menjadi 'orang baik-baik lagi salih' pada bulan Ramadhan, namun enggan melanjutkan perubahan itu di luar bulan Ramadhan.
Walhasil, Jadikan Ramadhan sebagai momentum untuk melakukan perubahan secara mendasar terhadap seluruh aspek kehidupan, baik kehidupan individu maupun kemasyarakatan dan negara melalui ketaatan kita kepada Allah. Saatnya kita bangkit dengan menguatkan kembali kedekatan kita kepada Allah pada bulan yang penuh berkah dan ampunan ini menuju terwujudnya 'izzul Islam wal Muslimin
(Mujianto)
Seorang pegawai negeri sipil disebuah instansi pemerintah tiba-tiba menjadi alim saat Ramadhan. Demikian juga kalau kita lihat muda-mudi yang biasanya bergandengan tangan kesana-kemari seolah hilang meski tak semuanya. Mereka seolah baru menyadari kalau perbuatannya berdosa sehingga tidak boleh dilakukan pada bulan Ramadhan.
Masjid-masjid, mushola-Mushola menjadi ramai pada malam hari. Antusiasme kaum Muslimin begitu luar biasa saat bulan Ramadhan, mereka berbondong-bondong mendatangi masjid-majid, mushola-musholla dengan pakaian khas mereka. yang pria pakai baju koko dan yang wanita berkerudung. Artis-artispun sepertinya tak mau ketinggalan mereka merubah penampilan mereka total dari perilaku biasanya. Mereka yang sebelumnya berjingkrak-jingkrak dan suka ngakak mendadak menjadi alim. Kemanapun mereka disorot kamera, seolah pingin menonjolkan kealimannya dihadapan umum. Anak-anak yatim mereka undang untuk berbuka puasa di rumah mereka. Kadangkala merekapun menyempatkan diri mendatangi panti asuhan untuk menyampaikan sumbangan. "Di bulan Ramadhan saya sering menyumbang, bersedekah bahkan tampil sebagai pengisi acara Ramadhan. Di luar Ramadhan saya kembali bergabung bersama teman-teman yang lain" kata artis.
Para pejabat tinggi negarapun demikian mereka jadi gemar menyambangi masjid dan tempat ibadah. Mereka mereka menyediakan makan bagi karyawannya untuk berbuka bagi mereka yang harus melewati maghrib di kantor, sekaligus berbuka bersama. Ini adalah hal yang jarang terjadi ketika bulan-bulan biasa.
Mal-mal dan pusat perbelanjaan tak ketinggalan. Mereka memutar lagu-lagu bernuansa Islam. Pajangan-pajangan seronokpun disingkirkan diganti dengan pajangan khas Ramadhan dan menyambut lebaran.
Suasanan Ramadan kian semarak ketika setasiun-stasiun televisi menayangkan tayangan-tayangan yang bernuan Islam. Ramadhan menjadi salah satu acara yang dikemas sedemikian rupa oleh stasiun televisi untuk mendatangkan iklan, semata-mata untuk mendatangkan keuntungan di tengah suasana ibadah.
Walhasil, nuansa Ramadhan demikian terasa mewarnai negeri yang mayoritas Muslim terbesar di dunia. Ramadhan menjadi kesempatan setahun sekali yang begitu penting. seolah tak ada yang mau ketinggalan dengan suasana Ramadhan ini.
Bulan Ramadhan mampu mengubah persepsi dan perilaku seorang Muslim sedemikian rupa Orang fasik menjadi malu menampakkan kefasikannya. Orang munafik menjadi enggan mempertontonkan kemunafikannya. Orang zalimpun mengurangi intensitas kezalimannya. sebaliknya orang salih makin bersemangat dan meningkatkan amal baiknya lebih daripada bulan-bulan lainnya.
Ramadhan mampu menciptakan atmosfer keimanan yang kuat, suasana kebaikan, dan perasaan yang peka terhadap ajaran-ajaran Islam. Pada bulan itu kaum Muslim mampu bersatu, serentak menunaikan perintah Allah yang berkaitan dengan ibadah shaum; shaum pada hari yang sama dan berbuka (i'd) pada hari yang sama; mampu menahan tidak makan, tidak minum, menahan hawa nafsu; sanggup menjalankan ibadah-ibadah nafilah dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah; bersedia berkorban lebih besar dan lebih banyak dalam bidang harta benda; dan banyak lagi.
Kehilangan Makna
Di tengah antusiame kaum Muslim menjalankan ibadah puasa ada anomali yang muncul. Ramadhan menjadi alasan untuk tidak bekerja maksimal. Banyak orang menjadi malas dan loyo dalam bekerja. Produktivitas menurun.
Ini membuktikan, disadari atau tidak, apa yang terjadi selama bulan Ramadhan ini belum menjadi sebuah sepirit luar biasa bagi kaum Muslim dalam melakukan perubahan ke arah kehidupan yang lebih baik pada masa-masa berikutnya. Ramadhan hanya 'disyiarkan' pada waktu bulan tersebut saja. Setelah bulan itu berlalu, kehidupan kembali seperti semula, seolah tidak ada bekas sedikitpun dari Ramadhan kali ini.
Ini bisa terjadi karena ada pemahaman yang keliru di tengah masyarakat. Ramadhan dijadikan bulan suci yang harus dihormati, bukan bulan yang harus dijadikan tempat untuk berbenah diri menghadapi masa berikutnya, jadi fokusnya adalah bagaimana menghormati bulan itu dengan aktivitas yang baik ala kadarnya. Akibatnya, tidak ada pengaruh yang signifikan antara puasa dan perubahan perilaku.
Pemahaman ini muncul bisa jadi karena banyak kaum Muslim tidak memahami hakikat puasa Ramadhan ini. Kalaupun mereka tahu tentang puasa, sifatya dangkal. Tidak aneh bila puasa pada bulan berkah ini muncul sebagai rutinitas tahunan. Bisa jadi banyak orang beramal karena pengaruh lingkungan sekitarnya, bukan karena kepahamannya terhadap perintah Allah tersebut. Ibaratnya, puasa Ramadhan adalah tren. Akhirnya puasa itu sekedar ibadah ritual sehingga kehilangan ruhnya. Tak mengherankan bila puasa hanya berpengaruh terhadap individual semata dan itu hanya terjadi pada saat puasa.
Kenyataan ini tidak lepas dari sekulerisasi yang melanda umat Islam. ibadah, termasuk puasa, dipandang hanya sebagai ritual semata yang tidak terkait dengan perilaku hidup lainnya yang lebih luas.
Dilihat dari upaya mendekatkan diri kepada Allah (taqarrub ila Allah), semangat itu ada di kalangan kaum Muslim. Namun, dengan proses sekulerisasi, pendekatan diri kepada Allah ini sifatnya menjadi sangat terbatas pada individu dan tidak berpengaruh terhadap lingkungan di luar dirinya; seolah pendekatan diri itu cukup hanya dengan ibadah mahdlah saja. inilah buah dari ketiadaan pemahaman yang komprehensif tentang makna taqarrub illa Allah
Puasa dan Ketaatan
Secara fiqh, puasa adalah menahan diri dari makan dan minum serta hal-hal yang membatalkannya dari terbit fajar hingga terbenamnya matahari. Inilah yang menjadi pemahaman umum di tengahmasyarakat. Walhasil. dampaknya sangat material dan inderawi belaka.
Padahal kalau kita meyimak hadits Rasulullah saw., ada makna yang lebih dalam dari sekedar menahan makan dan minum belaka. Nabi saw. bersabda, "Barang orang yang berpuasa ada dua kebahagiaan: kebahagiaan ketika ia berbuka dan kebahagiaan ketika ia berjumpa dengan Tuhannya." (HR al-Bukhari dan Muslim).
Ada juga hadits lain dari Abu Hurairah ra., bahwa Rasulullah saw. pernah bersabda, "Puasa itu bukanlah semata-mata menahan diri makan dan minum, tetapi juga menahan diri dari perbuatan yang sia-sia dan keji. Jika ada orang yang mencelamu atau berbuat jahil kepadamu maka katakanlah, 'Aku sedang puasa, aku sedang puasa." (HR Ibnu Khuzaimah dan Al-Hakim dengan sanad sahih)
Hadit-hadits diatas menunjukkan bahwa puasa tidak hanya menahan diri dari makan, minum dan jimak tetapi juga meninggalkan berbagai kemaksiatan, baik itu mata, tangan, kaki ataupun hatinya. Pendek kata kita melakukan aktivitas pengendalian diri sesuai dengan aturan Allah SWT.
Oleh karena itu, orang yang sukses dalam puasanya akan menyadari keberadaan dirinya di dunia bahwa ia hanyalah makluk dan harus tunduk dengan aturan-aturan Allah. Dengan kesadaran tersebut, kita harus rela menanggalkan hawa nafsunya dan kembali pada jatidirinya sebagai hamba yang diberi amanah oleh penciptanya. Amanah itu adalah senantiasa mengatur kehidupan ini dengan ketentuan Allah. bukan hawa nafsunya yang dikedepankan.
Rasulullah saw bersabda. "Banyak orang yang berpuasa di mana bagian dari puasanya hanyalah rasa lapar dan dahaga." (HR Ibnu Majah dengan sanad yang shahih).
Buah dari Puasa
Puasa Ramadhan sebulan lamanya semestinya membawa perubahan yang luar biasa kepada semua orang yang melaksanakannya. Betapa tidak. Mereka telah berlatih untuk menahan nafsunya sehingga tidak berani sedikitpun melanggar ketentuan Allah. Kalau mereka telah berhasil menahan diri dari dari hal-hal yang sebenarnya di luar Ramadhan halal, seharusnya mereka lebih bisa lagi untuk menahan diri dari hal-hal yang dilarang oleh-Nya.
Idealnya pasca Ramadhan lahir sebuah tatanan baru yang dipenuhi dengan suasana keimanan dan ketaatan kepada Allah SWT; bukan sebaliknya, hadir kembali suasana kerusakan seolah Ramadhan tidak pernah ada.
Oleh karena itu, saatnya puasa Ramadhan kali ini menjadi momentum bagi seluruh Muslim untuk meningkatkan kedekatannya kepada Allah SWT dalam arti sebenarnya. Puasa adalah taat syariah. Hasilnya akan terlihat ketika Ramadhan telah berlalu. Akankan kita semakin taat? kalau kian taat berarti puasa Ramadhan kita sukses. Sebaliknya, kalau tidak ada dampaknya berarti kita rugi menjalankan puasa. kalau setelah Ramadhan bertambah buruk berarti itu celaka.
Seorang Muslim yang baik tidak 'bermetamorfosis' menjadi 'orang baik-baik lagi salih' pada bulan Ramadhan, namun enggan melanjutkan perubahan itu di luar bulan Ramadhan.
Walhasil, Jadikan Ramadhan sebagai momentum untuk melakukan perubahan secara mendasar terhadap seluruh aspek kehidupan, baik kehidupan individu maupun kemasyarakatan dan negara melalui ketaatan kita kepada Allah. Saatnya kita bangkit dengan menguatkan kembali kedekatan kita kepada Allah pada bulan yang penuh berkah dan ampunan ini menuju terwujudnya 'izzul Islam wal Muslimin
(Mujianto)
Langganan:
Postingan (Atom)