Wajah Demokrasi Yang Bopeng Sebelah
Merasa familiar dengan judul diatas ? Penulis memang sengaja menyitirnya dari tulisan yang dibuat Soe Hok Gie (lebih dikenal dengan sebutan Gie) sesaat setelah gerakan mahasiswa tahun 66 berhasil merobohkan Orde lama dan menandai berdirinya Orde baru. Artikel yang aslinya berjudul “wajah fakultas sastra yang bopeng sebelah” ini memang tidak membicarakan demokrasi, tetapi sosok Gie kita kenang sebagai pejuang demokrasi yang akhirnya kecewa dengan hasil perjuangannya sendiri, karena demokrasi wajah baru (baca: orde baru) tidak memberikan perbedaan yang signifikan kepada Indonesia. Hingga di akhir hayatnya, Gie tetaplah seorang kritikus pedas terhadap pengemban demokrasi (baca: pemerintah) Indonesia.
Siapapun dia, tidak bisa memungkiri, bahwa gerakan mahasiswa memiliki peranan yang cukup berarti dalam perjalanan bangsa ini. Berbagai macam momen dan peristiwa yang terjadi senantiasa menghadirkan sosok mahasiswa sebagai bagian dari unsur terpenting. Setumpuk predikat filosofis pun dikalungkan untuk mahasiswa; mahasiswa sebagai agen perubahan (agent of change), kontrol sosial (social control), kekuatan moral (moral force), cadangan potensial (iron stock), dan sebagainya walaupun akhirnya seiring dengan semakin terkikisnya vitalitas mahasiswa, akhirnya predikat itu menjadi ungkapan romantisme belaka.
Pemikiran yang muncul di tubuh gerakan mahasiswa dewasa ini, tidak (atau sedikit) ada yang menyinggung masalah yang sebenarnya. Akar-akar masalah yang muncul dari demokrasi dibicarakan dengan gegap gempita, seperti kemiskinan, pengangguran, pendidikan mahal dan korupsi, tetapi Demokrasi sendiri dipandang sebagai sesuatu yang suci, yang tidak perlu diperdebatkan. Slogan-slogan demokrasi digunakan sebagai dasar berbagai kegiatan mahasiswa, tanpa melalui kajian yang mendalam terhadap demokrasi.
Pengadopsian sebuah ide atau pemikiran gerakan menjadi unsur yang penting bagi gerakan mahasiswa sebagai nilai perjuangan nantinya. Ide atau pemikiran itu haruslah ide dan pemikiran yang benar dan jelas. Dalam artian telah melalui proses studi kelayakan dan disimpulkan apakah baik untuk diadopsi. Ternyata prinsip ini dilupakan oleh gerakan mahasiswa selama ini. Mahasiswa tidak mampu menampilkan diri sebagai insan yang cerdas, lebih bersifat emosional tapi non konseptual. Banyak bermain pada wilayah kritik, auto kritik tapi kering akan solusi. Ketika Barat menyerukan demokratisasi, mahasiswa pun menyerukan hal yang sama. Ketika Barat menyerukan pluralisme, mahasiswa pun latah dengan apa yang dikatakan pihak Barat. Yang lebih disayangkan ketika gerakan mahasiswa justru menjadi pelanggeng sistem status quo yang jelas–jelas telah busuk dan tidak layak dipelihara. Lagi–lagi karena mahasiswa tidak memiliki pemikiran dan konsep yang jelas.
Mahasiswa akan berkilah jika diperhadapkan dengan keburukan dan kegagalan demokrasi, bahwa bangsa Indonesia memang masih pada tahap belajar berdemokrasi atau transisi demokrasi. Padahal negara demokrasi sendiri hanya ada dalam komik-komik yang dikarang oleh tokoh-tokoh Barat dan para Islamofhobia. Kemudian mahasiswa (termasuk mahasiswa muslim) ikut-ikutan latah seperti apa yang dikatakan mereka. Akibatnya gerakan mahasiswa tidak lagi memiliki orientasi yang sejalan dengan ide-ide Islam sebagai ide terbaik yang seharusnya menjadi Value of objektif bagi pergerakan mereka.
Ide Islam (syariat Islam) ditakuti, seolah ide ini akan membuat mereka mundur dari peradaban. Mereka mengidentikkan syariat Islam sebagai ide yang tidak sesuai dengan pluralisme, dan tidak mengusung keberagaman. Hal ini hingga sekarang masih terjadi, meski kita semua tahu sendiri bahwa kebobrokan kehidupan saat ini karena tidak diterapkannya system Islam secara Kaffah. Malah kita terjebak dalam roda pergerakan system Kapitalis saat ini, yang tidak akan pernah rela menjadikan rakyatnya hidup makmur karena kemiskinan adalah salah satu alat dari kapitalisme untuk tetap bercokol di sebuah negara.
Syariat Islam sempurna karena dia datang dari pencipta manusia, dan hanya Allah yang mampu membuat aturan yang paling cocok untuk manusia, karena pencipta adalah sosok yang paling mengenal ciptaannya. Ketika manusia mengagungkan aturan-aturan yang dia buat sendiri, maka aturan itu tak ubahnya istana kardus yang meski indah tapi mudah hancur dan terbakar. Tak berlebihan bila penulis memberikan statement bahwa demokrasi dan seluruh keturunannya adalah sebuah wajah yang bopeng sebelah, yang tampak seakan-akan manis, tetapi buruk rupa. Ingatlah bahwa Allah telah berfirman dalam Al Qur’an, "Siapa saja yang berpaling dari dzikri (kitab-Ku), maka baginya kehidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya di pada hari Kiamat dalam keadaan buta." (QS. Thaha [20]:124).
Ketahuilah kawan-kawan mahasiswa, kita semua akan menjadi saksi kehancuran dari negeri ini bila kita biarkan sistem yang bobrok ini terus menerus menggerogoti setiap kekayaan dan darah rakyat kita. Tidak cukup kita hanya menyerukan isu-isu yang parsial, melainkan harus menyentuh akar permasalahannya yaitu ganti sistem ini dengan sistem yang baru yakni Islam. Sesungguhnya menjadikan demokrasi sebagai cita – cita dan standar perjuangan adalah kekeliruan besar mahasiswa / lembaga/ gerakan mahasiswa dan akan selamanya menjadi faktor kegagalan demi kegagalan yang kita dapatkan. Wahai mahasiswa muslim, Islam tidak bisa dikompromikan dengan ide-ide yang jelas-jelas bertentangan dengan Islam (baca : Demokrasi). Islam adalah ideologi kita yang mampu memberikan solusi pada semua permasalahan umat manusia. Ke depan, gelombang perubahan dan benturan ideologi akan semakin terasa, Islam akan menantang dan meruntuhkan Kapitalisme- Sekuler dan Sosialisme-Komunis. Tinggal kita serukan kepada kawan-kawan mahasiswa, apakah anda akan berada dibalik perjuangan kapitalis dan sosialis atau dibalik perjuangan Islam? Sangat disayangkan jika ada yang salah pilih tapi lebih disayangkan lagi jika ada yang tidak memilih apa–apa selain hanya diam dan bungkam. Wallahu A'lam Bishowab
Irfan S Roniyadi and Ulul Azmi Rizal.
Senin, 05 Mei 2008
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
selamat menempuh hidup baru yah...
BalasHapusyakni dengan bloger baru ente...
Salut buat inovasi dakwah ente semua, semoga dakwah di UMG makin bersinar.
Salam dari JUBIR GEMA PEMBEBASAN GRESIK. Allahu Akbar!!
aha... yang baru yang baru masih anget eh tambah maju aja si UKKI. bisa2nya buat blogger, yang jelas tambah asyik bisa kenal sekat dengan Lembaga Dakwah yang tak pernah kenal lelah dan berhenti berjuang...sukses boss..
BalasHapusAnaK BUangan dari negeri seberang
WWW.GOMBEL.Dol JAMU